Dilihat dari sudut mana pun, sebenernya udah keliatan jelas banget bahwa novel ini bukan tipe buku yang bakal gue baca (dengan sukarela).
Namun karena gue menjerumuskan diri ke dalam tukar-menukar buku yang menurut kita "must read" dengan teman sekantor, dapet lah Cantik Itu Luka ini—historical fiction yang super satir dan berfokus ke masalah sosial.
Sore hari di akhir pekan bulan Maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematian.
—adalah paragraf pembuka yang sangat punchy dan juga absurd. Gue mulai merasa kalau novel ini punya bagian mistisnya, which is berarti gue harus menanggalkan logika.
Cerita kemudian berfokus pada si nenek Dewi ini dan masa lalunya. Doi blasteran Belanda gitu lah, dan hidup di masa penjajahan (meskipun kota Halimunda tempat dia tinggal kayaknya fiksi ya). Latarnya menarik, penggambarannya juga bagus banget.
Di satu titik dalam hidupnya, dia dipaksa jadi pelacur. Tapi nenek Dewi ini cukup tenang menghadapi itu, bahkan bisa mengais kesempatan darinya. Di sini gue mulai suka karakternya Dewi Ayu dan pengen mengulik lebih dalam tentang dia. Tapi ternyata...
Cerita mulai berpindah ke kehidupan anak-anaknya (yang gak tau bapaknya siapa); Alamanda, Adinda, Maya Dewi, dan Cantik. Tiga pertama cantik banget katanya, kalau hidup di 2026 udah pasti jadi selebgram, sementara yang bungsu buruk rupa
—yang bikin gue bertanya-tanya, ini kan pasti salah gen bapaknya soalnya si Dewi Ayu cantik tuh. Masa si nenek ini gak inget satu pejantan buluk yang pernah entod dia gitu??? Sejelek itu apa gak meninggalkan kesan yang mendalam? Atau pas lagi proses bikin mungkin dia pake topeng Brad Pitt /ga/.
Pokoknya gitu lah.
Mulai diceritakan bagaimana kehidupan anak-anaknya ini kayak gak ada yang bener. Alamanda terpaksa nikah dengan rapist-nya sendiri; Shodancho. Adinda nikah sama Kamerad Kliwon yang masih belum move on dari Alamanda, dan Maya Dewi dijodohkan dengan Maman Gendeng yang seumuran sama ibunya sendiri.
Sampai sini gue udah mulai gila.
Penulis benar-benar ingin memasukkan semua kegilaan sosial di satu novel ini.
Pelacuran? Check.
Pemerkosaan dan korbannya dipaksa menikah dengan pelaku? Check.
Menikah tanpa cinta? Check.
Pedofilia? Check.
Gak cuma anak-anaknya Dewi Ayu, sampai ke menantu-menantunya juga (Shodancho; tentara, Kliwon; komunis, Maman; preman). Ketiganya merupakan simbolisme power sekaligus power abuse dalam masyarakat pada masa itu. Menarik, tapi juga overwhelming.
... dan dragging. Mulai bagian tengah cerita saat membahas kehidupan anak-anak influencer ini, begitu banyak adegan seksual yang sakit dan kelewat vulgar, dengan porsi kebanyakan pula. Satu-dua kali masih oke, namun ketika ini diulang terus, gue mulai merasa jenuh dan men-skip bagian persenggamaannya.
Gue mulai bertanya-tanya kemana hilangnya latar penjajahan di awal cerita, semua tergantikan dengan konflik rumah tangga. Gue mengernyitkan dahi kenapa perdebatan batin para karakter terlalu dicurahkan dari sudut pandang seks. Gue nggak ngerti kenapa penulis harus memasukkan bermacam-macam kiasan pada satu adegan yang kurang lebih sama, membuat buku ini berakhir dengan 500+ lembar karenanya.
Kalau bisa memilih, gue lebih mau tau bagaimana dampak topik-topik sakit ini ke piramida sosial yang lebih besar di Halimunda. Merujuk pada kasus irl, korban pelacuran jaman itu kan dapat label 'bekas Jepang' dan dikucilkan, tapi gue kurang menangkap tekanan sosial yang dialami tokoh-tokoh di novel ini.
Bisa jadi karena pengaruh suami-suami mereka sebagai pilar kekuasaan di kota itu, bisa jadi karena kotanya kecil jadi momen-momen judgmental yang diterima kurang masif hingga hampir tak terasa. Namun untuk cerita yang mengangkat isu seberani ini, konfliknya justru diceritakan dalam scope yang kecil (rumah tangga).
Satu lagi yang menurut gue kurang dieskplorasi adalah karakterisasi. Jujur, awalnya gue berharap banyak karena Dewi Ayu menarik cuy, anak-anaknya dijadikan pion strategis. Memang gak etis tapi masuk akal dengan hubungan keluarga disfungsional di antara mereka. Ehhh, setelah loncat ke anak-anaknya, malah jadi roller coaster perngewean.
Ujung-ujungnya para tokoh perempuan ini cuma jadi objek "sebab" dengan "akibat" yang mirip-mirip. Sepertinya penulis ingin menekankan bagaimana wanita akan selalu jadi kelas dua dalam tatanan sosial, namun dengan latar sekaya ini, dibumbui mistisisme dan bagaimana si anak-anak ini menikahi 3 pilar kuasa—which is harusnya ciwi-ciwi ini jadi punya akses terhadap kualitas informasi yang lebih tinggi dengan memanfaatkan status tersebut—tapi mereka gak memanfaatkan itu semua sehingga tetap nggak bisa lebih unggul dari laki-laki.
Apa nggak ada yang tertarik jadi dukun gitu lalu kutuk aja itu para pejantan wkwk.
Malah karakter laki-lakinya yang menurut gue justru menarik lol. Yang gila beneran awur-awuran gilanya, yang mistis dapet akhir mistis, yang komunis ikut terjebak arus politik (punya "interaksi" dengan latar yang dibuat). Bandingkan dengan para karakter perempuan; serba nanggung. Alamanda bisa jadi ekstrim sampe ngegembok kelaminnya tapi yaudah gitu aja, Amanda bisa mencintai dengan dalam tapi yaudah gitu aja, Maya Dewi kalem dan—yaudah gitu aja. Tidak ada turning point berarti, membuat gue jadi nggak bisa bersimpati dengan mereka.
Btw gemes sama si Adinda pasif banget sama suaminya yang masih suka sama kakaknya wkwk. Kata gue mah berguru lah sama Dewa 19; "Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku, meski kau tak cinta kepadaku..."
Menuju akhir cerita, pacing-nya tiba-tiba ngebut dalam menceritakan cucu-cucunya Dewi Ayu; Ai, Krisan, Rengganis. Ketiganya terjebak pergaulan bebas lalu saling entod. Makin sakit kepala dah gue.
Krisan adalah epitome dari semua kegilaan di atas. Nama doang Krisan tapi kelakuan berbanding terbalik 180 derajat dari arti bunga tersebut. Bro bejatnya udah naik level sampai bunuh-bunuhan. Tapi ya, ini membuat gue jadi excited akan penyelesaian seperti apa yang penulis pilih untuk kisah gila ini, tapi ternyata semua ini terjadi karena...
... kutukan.
LITERALLY kutukan.
MISTIK.
ANJENGGGGGGGGG
"Eh, jadi pernikahan paksa dan pedofilia ini terjadi karena sistem masyarakat yang rumit, melibatkan abusive power dan generational trauma ya?"
"Gak, karena kutukan."
"Eh, jadi para karakter perempuan cantik di sini gak bisa lepas dari nasibnya karena sistem masyarakat yang rumit, melibatkan abusive power dan generational trauma ya?
"Gak, karena kutukan."
"Eh, jadi hubungan inses turun-temurun—yang anehnya gak pernah menghasilkan bayi cacat ini—terjadi karena generational trauma yang surprisingly mengaburkan moralitas para karakter yang PADAHAL SEMUANYA DISEKOLAHKAN DI LEMBAGA BERBASIS AGAMA ya?"
"Gak, karena kutukan."
JADI BEGITU DONG ANJERRRR
Gue hampir membanting buku ini kalau aja nggak inget ini punya orang lol. Menurut gue ini penutup yang sangat cheap. Awal-awal menekankan isu sosial, diakhiri dengan kesimpulan bahwa semua itu terjadi karena kutukan, mana yang mengakhiri semuanya si Dewi Ayu pula wkwk. Jujur kasian sama karakter-karakter di sini yang pada akhirnya hanya menjadi wayang tanpa kesempatan untuk berkembang dalam lakon Dewi Ayu.
Si Cantik selalu terus mengejarnya, setiap kali mereka bertemu dan bercinta, dengan pertanyaan, "Kenapa?" Krisan tetap membungkam, bahkan meskipun ia tahu jawabannya, ia tak mau menjawab. Tapi di malam sebelum ia terbunuh, ia akhirnya menjawab.
Pengakuan keempat: "Sebab cantik itu luka."
The concept of this answer came from Krisan hahahaha 🤡🤡🤡
Bro melakukan kebejatannya tanpa paksaan
lalu menyalahkan perempuan cantik lmaooooo.
Bro needs a hard slap in the face. "Cantik itu luka" pala lu wkwkwk sok jadi korban banget si bangsat.
I must say I hate the ending, man. Jujur ya, gue tertarik loh sama karakter si Cantik ini. Dia kan kurang dapet peran ya di cerita ini, lah sekalinya dapet malah (lagi-lagi) submit ke laki-laki (Krisan)...
Selesai membaca ini, gue jadi ngerasa bingung intinya apa, gitu. Semuanya serba ironi.
Mau ngebahas kemalangan hidup karena sistem sosial yang gila, kesimpulannya ini disebabkan mistisisme.
Mau ngebahas cinta adalah obat, nyatanya nasib tetap malang dan pada akhirnya Dewi Ayu yang turun tangan ngebunuh roh jahat agar dia juga bisa mati tenang.
Mau ngebahas ketimpangan peran perempuan, sampai akhir masih jadi kelas dua.
Mau dibawa ke arah feminisme juga, ironisnya, hidup mereka semua disetir laki-laki.
OH, SATU LAGI
Mau mencoba filosofis dengan kutipan "cantik itu luka", yang ngomong begitu justru Krisan WKWKWKWKWK
Mungkin sebenarnya genre novel ini adalah komedi.
Komentar
Posting Komentar